Megawati Cerita Jatuh Bangun Pimpin PDIP Dihadapan Peserta Konferensi Internasional Partai Politik

12645145_640709482734052_5542265272559162702_n

Presiden Ke-5 RI Megawati Soekarnoputri bercerita mengenai pengalamannya membangun PDI Perjuangan.

Hal tersebut disampaikannya saat berpidato dalam pembukaan International Conference of Asian Political Parties (ICAPP) di Kompleks Parlemen, Jakarta, Jumat (22/4/2016).

Megawati mengatakan telah memimpin PDI Perjuangan dari masa yang sangat sulit pada tahun 1993.

“Jatuh bangun kami alami, kami telah menapaki jalan yang terjal dalam sejarah kepartaian di Indonesia,” kata Megawati.

“Kami dibungkam, kami terpuruk, kami bangkit, kami terpuruk lagi, kami berjuang dengan segenap romantika, dinamika dan dialektika, berada di pemerintahan, di luar pemerintahan, dan akhirnya kembali memperoleh kepercayaan rakyat menjadi pemenang Pemilu Legislatif tahun 2014,” tuturnya.

Hal itulah, kata Megawati yang membuat PDIP mampu mengusung sekaligus memenangkan Presiden dan wakil Presiden dalam Pemilu pada tahun yang sama.

Namun, Megawati mengingatkan perjuangan kepartaian tidak selesai dengan memenangkan pemilu.

“Tanggung jawab yang lebih besar justru ketika berada di dalam pemerintahan,” katanya.

Selain itu, Ketua Umum PDIP itu mengingatkan kesejahteraan rakyat merupakan muara perjuangan seluruh partai politik.

Ia juga meyakini kesejahteraan rakyat tidak mungkin tercapai tanpa adanya kemerdekaan politik dan kemerdekaan ekonomi.

“Kemerdekaan hanya bisa hadir jika di dalam suatu Negara tumbuh subur dan bermekaran tak hanya demokrasi politik, namun juga demokrasi ekonomi.”

“Sebuah demokrasi yang membuka pintu selebar-lebarnya bagi rakyat untuk terlibat dalam memuwudkan kedaulatan politik dan kedaulatan ekonomi bangsanya,” ujarnya

Megawati menuturkan di era politik modern keberadaan partai politik adalah suatu keniscayaan.

Bagi Mega, partai adalah alat perjuangan untuk menciptakan kesejahteraan rakyat yang berkeadilan.

“Melalui partai politik kita melakukan pengorganisiran rakyat secara sistematis, berjuang melenyapkan susunan masyarakat “lama” yang terkurung feodalisme dan ketertindasan, menuju terwujudnya suatu susunan masyarakat “baru” yang di dalamnya rakyat hidup merdeka, merdeka yang sejati-jatinya, lahir dan batin,” tuturnya.

SUMBER