Saatnya Gaungkan Politik Beradab untuk Generasi Milenial

Politik berbeda dengan abad ke 20, di mana gagasan-gagasan politik selalu ditakar dengan doktrin-doktrin ideologi

Jakarta, Gesuri.id – Indonesia dalam dua tahun ke depan sedang mempersiapan sebuah pesta demokrasi bernama Pemilihan Umum (Pemilu) serentak. Sayangnya, Pemilu yang seharusnya berjalan dengan damai justru menjadi “zona perang” yang penuh dengan berita-berita bohong dan ujaran-ujaran kebencian yang tersebar luas melalui dunia maya. Tujuannya apa lagi, jika bukan untuk mendapatkan kekuasaan yang absolut.

Cara-cara seperti ini jelas sangat mampu memecah belah bangsa, menjadikan persaingan politik tak lagi sehat dan beradab, menimbulkan rasa apatis khususnya dari generasi milenial. Jika terus dibiarkan, bukannya tidak mungkin Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika akan berakhir menjadi jargon belaka tanpa adanya penghayatan.

Berangkat dari kekhawatiran itu lah, salah seorang politisi PDI Perjuangan yang juga merupakan mantan aktivis reformasi, Budiman Sudjatmiko atau akrab disapa Iko ini ikut menggaungkan dan menularkan Politik Berkeadaban khususnya bagi genarasi milenial. Apa saja yang menjadi langkah-langkahnya untuk mewujudkan politik berkeadaban di Indonesia? Berikut petikan wawancaranya dengan Reporter Gesuri.id Gabriella Thiesa dalam suasana yang santai.

Menurut Anda, bagaimana cara mewujudkan suatu politik berkeadaban seperti yang diingkan oleh Ibu Mega?

Politik berkeadaban itu pertama-tama politiknya harus pakai etika. Etika itu artinya suatu kepantasan-kepantasan dan kelayakan-kelayakan di mana perbedaan, permusuhan tidaklah merendahkan kemanusiaan. Tidak mempermasalahkan hal-hal yang manusiawi, tidak mempermasalahkan hal-hal yang seharusnya sudah selasai di dalam urusan kita sebgai manusia yang hidup di dunia ini.

Kedua, etika yang lain adalah bahwa ukuran tertinggi adalah kesejahteraan rakyat dan keselamatan rakyat. Nah, politik berkeadaban itu yang pertama-tama etika, baru kemudian disusul dia harus logika.

Logika dalam pengertian begini, yang masuk-masuk akal aja, nggak usah mengada-ada, nggak usah boombastis, tidak usah membuat kata perkataan yang seolah-olah ada skenario hari kiamat Indonesia bubar, misalnya gitu.

Berarti tidak usah pakai skenario yang aneh-aneh untuk membuat suatu pernyataan politik?
Ya nggak usahlah. Kita ini gini, sekarang ini apa bukti-bukti Indonesia akan bubar? Kedua, secara etis apakah pantas para pemimpin berbicara seperti itu.

Ini kan kayak orang tua yang kemudian berkata “ya kamu ga usah berlajar lah anak ku, toh nanti kamu akan bodoh, toh nanti kamu akan mati, toh nanti kamu akan gak naik kelas, toh kmu nanti akan miskin.

Nggak usahlah jatuh cinta, nggak usah mencintai. Nggak usah sekolah lah, toh IQ kamu nggak tinggi, misalnya. Udah lah nggak usah mandi, toh nanti kamu kotor lagi.”

Apa harus kayak gitu ? Dari segi scientific bagus, dari segi etika, nggak pantes lah pemimpin ngomong seperti itu. Seperti nggak pantes orang tua ngomong kamu akan jd orang bodo anak ku.

Sejauh ini, politik berkeadaban di Indonesia khususnya di masa-masa pemilu ini bagaimana? Apakah sudah mulai terwujud, dibandingkan tahun-tahun sebelumnya?

Sebenarnya tahun-tahun sebelumnya kita sudah menunjukan lho politik berkeadaban. PDI Perjuangan sudah menunjukan bagaimana cara beroposisi secara beradab.

Strategi kita dalam pemerintahan SBY, tapi tidak ada kita mengarahkan atau diarahkan untuk melakukan degradasi kemanusiaan. Tidak diarahkan untuk melakukan serangan baik terbuka, tertutup atau setengah terbuka, setengah tertututp yang sifatnya melecehkan kemanusiaan dan unsur kemanusiaan lawan politik kita.

Kita sudah mengajarkan 10 tahun. Tapi rupanya ada kelompok-kelompok yang sudah terlalu berkuasa secara politik, secara ekonomi. Kemudian baru kalah sebentar, mereka pasti tidak rela. Dan ini yang kemudian membuat saya berpikir, jangan-jangan reformasi 98 belum cukup memberikan pelajaran yang keras kepada mereka. Enough is enough.

Kalau misalnya, menurut Anda reformasi 98 belum bisa memberikan pelajaran yang cukup, harus dengan cara apa lagi?

Ya kita akan ajarkan, bagaimana menjadi oposisi yang bermartabat. Pelajaran keras sudah, lembut sudah, kita bahkan contohkan menjadi oposisi bermartabat, tapi memang tetep nggak mau juga. Ya itu berarti sudah bawaan bayi. Nah kalau sudah seperti gitu apa? Kalau gitu kalahkan secara politik dan kita akhirnya bukan memberikan pelajaran pada musuh politik kita, tapi kita memberi pelajaran bagi masyarakat bagaimana untuk tidak mempercayai mereka. Gitu aja.

Berarti saat ini, mengajarkan politik berkeadaban tidak lagi pada lawan politik tapi pada masyarakat?

PDI Perjuangan udah ngajarin lho politik berkeadaban, beroposisi dan nggak macam-macam. Tidak bikin rusuh, tidak bikin propaganda-propaganda yang memecah belah bangsa. Tapi rupa-rupanya ini gabungan antara orang-orangn yang berkuasa terlalu lama kemudian terjatuh oleh kekuasaan dan orang yang merasa diri nggak berkuasa-kuasa.

Bergabunglah, bercampurlah keputusasaan itu jadi satu, menghasilkan kekalapan dan pada akhirnya mereka nggak bisa memberikan alternatif kebijakan sebagai tokoh politik oposisi yang baik. Yang saya sebut tokoh oposisi tdk kredibell iti, akhirnya yang mereka lakukan adalah menyulut emosi, membutakan mata pada fakta. Nah di sini kekuatan-kekuatan yang pro Pancasila harus semakin menggunakan kecerdasannya secara politis untuk membendung itu. Saya kira itu dan bekerja baik saja nggak cukup. Kita juga harus ramai berbicara, harus selalu berkata-kata. Seperti Bung Karno bilang ‘Banyak kerja dan banyak Bicara’ dua-danya harus dilakukan secara politis, dua-duanya.

Banyak orang yang bilang kalau PDI Perjuangan adalah partai lama, bagaimana caranya menularkan politik berkeadaban kepada generasi milenial?

Harus disentuh dengan banyak kemasan. Harus juga dibarengi dengan kemampuan membahasakan pesan-pesan politiknya dengan istilahnya bahasa kekinian. Karena politik berbeda dengan abad ke 20, di mana gagasan-gagasan politik selalu ditakar dengan doktrin-doktrin ideologi, narasi-narasi besar. Di jaman sekarang itu nggak cukup hanya dengan narasi besar, tapi juga harus bisa merangsang daya tarik, merangsang minat, merangsang kegairahan.

Setiap tindakannya harus disertai dengan ‘WOW effect’,  ‘Cool effect’

Seperti menularkannya melalui jejaring sosial ya?

Salah satunya. Dan benar, kalau nggak cool itu nggak akan viral. Baik dan benar saja kalau nggak ada wow efeknya nggak akan viral. Salah atau biasa2 saja, tapi kemasaannya cool itu bisa viral.

Suka nggak suka itu kenyataan sekarang.

Kalau Anda sendiri bagaimana untuk bisa menciptakan efek wow spaya bisa memperkenalkan politik berkeadaban pada genarasi milenial?

Saya juga punya pertanyaan yang sama. Belum ketemu jawabannya nih.
Dan saya sendiri masih bertanya bagaimana caranya supaya wow, viral. Saya kira blm cukup ya. Kita harus membuat sebuah statement atau manuver untuk menjadi game changer, mengubah permainan.

Bisa dibilang itu menjadi PR bersama ya?

PR bersama, kita pikirkan, apa yang bisa menjadi game changer. Game changer itu suatu langkah sederhana kadang-kadang sederhana. Di grafik tidak besar. Tapi pada ruang dan waktu yang tepat, dibahasakan dengan tepat. Bisa diterima telinga orang yang tidak semuanya rajin baca, tdk semuanya rajin merennung, dan kemudian bisa diterima dan bisa masuk dan ada wow efek itu aja.

Ini tantangan bagi partai-partai lama, serius!

Tidak hanya tantangan bagi PDI Perjuangan saja?

Nggak nggak.. Tantangan bagi partai-partai lama karena kita sedang menghadapi sebuah era di mana era social network atau jejaring sosial itu sedang mendomonasi menghadapi era hirarki.

Kalau dengan partai-partai baru?

Mereka juga sedang mencari bentuk. Mereka mungkin dengan perangkat yang lebih siap tapi untuk menjadi viral, mereka juga sedang mencari bentuk. Saya kira mereka juga sedang mencari momentum, jadi masih banyak ruang kosong.

SUMBER