Pemikiran Bung Karno dan Islam

Oleh: Peneliti, pendidik dan sosiolog. Dosen di FISIP UIN Syarif Hidayatullah Neng Dara Affiah

Bulan Juni merupakan bulannya Soekarno atau yang lebih akrab disebut Bung Karno. Bulan Juni ini merupakan kelahiran Pancasila yang merupakan salah satu buah pikir Bung Karno, maka sudah sepantasnya Bangsa Indonesia mengenang gagasan-gagasannya yang tak lekang oleh zaman, tak terkecuali pemikirannya tentang Islam.

Pertautan Bung Karno dan ajaran Islam diawali dengan pengenalannya pada H.O.S Tjokroaminoto yang menjadi gurunya saat mulai tumbuh sebagai remaja. Sebagaimana diketahui, Presiden Republik Indonesia pertama ini bukan dari keluarga dengan kultur santri yang kental, namun demikian, Bung Karno telah dititipkan kepada seorang santri dan tokoh pergerakan, yakni H.O.S Tjokroaminoto.

Dari H.O.S Tjokroaminoto inilah pengaruh Islam masuk kedalam diri Bung Karno. Ia terus belajar secara otodidak melalui berbagai buku dari para pemikir dunia dan nusantara, yang kemudian mengkristal menjadi pemikiran-pemikiran luar biasanya, diantaranya adalah tentang Islam.

Islam harus berorientasi kemajuan, sistem khilafah adalah kemunduran zaman

Bung Karno berpandangan bahwa, menjadi muslim harus memiliki orientasi pada kemajuan. Maksudnya, memproduksi ilmu pengetahuan dan menciptakan berbagai ilmu modern. Menjadi muslim tidak hanya berasyik-masyuk dengan berbagai ritual keagamaan, tetapi sama pentingnya dalam membangun kemajuan peradaban umat manusia.

Sistem pemerintahan khilafah yang didengungkan Bung Karno sampai saat ini masih terjadi, yaitu pemikiran mundur karena berilusi mengembalikan kejayaan masa lalu untuk dihadirkan lagi masa kini. Padahal masa lalu punya cara dan logikanya sendiri, sebagaimana masa sekarang dan masa depan mempunyai cara dan logika untuk menyongsong kemajuannya.

Umat Islam di masa sekarang ini memiliki kewajiban untuk menyongsong ketertinggalannya, dan membangun masa depan. Sebagai mana yang ditulis oleh Bung Karno: “Islam harus berani mengejar zaman, bukan seratus tahun, tetapi seribu tahun Islam ketinggalan zaman. Kalau Islam tidak cukup kemampuannya buat mengejar seribu tahun itu, niscaya ia akan tetap hina dan mesum. Bukan kembali pada Islam glor yang dulu, bukan kembali pada ‘zaman chalifah’, tetapi lari ke muka, lari mengejar zaman. Itulah satu-satunya jalan buat menjadi gilang gemilang kembali. Kenapa toh kita selamanya dapat ajaran, bahwa kita harus mengkopi ‘zaman chalifah’ yang dulu-dulu? sekarang toh tahun 1936 dan bukan 700 atau 800 atau 900?”.

Bung Karno, meskipun tidak sistematis, menelisik beragam faktor penyebab kemunduran umat Islam. Diantaranya adalah:

1. Taklid buta, yaitu sikap tunduk tanpa reserve pada guru atau kyai, ketundukan itu biasanya terjadi dalam tradisi pesantren. Ketundukan akan menjadi masalah jika dapat mematikan kreatifitas dan akal budi manusia, yang merupakan modal pokok melakukan daya cipta. Kemajuan suatu masyarakat dan bangsa terletak pada kuatnya daya cipta itu sendiri. Bagi Bung Karno, taklid, akan mematikan daya cipta untuk memikirkan tentang kemajuan Islam. Menurutnya, taklid itu seperti abu, debu dan asap.

2. Mengutamakan Formalitas Islam, bukan subtansi Islam, maksudnya adalah mengutamakan fikih. Tidak merujuk langsung kepada Alquran dan Sunnah yang merupakan Api Islam.

Menurutnya, fikih memang penting, karena serupa undang-undang atau peraturan suatu negara, tetapi bukan satu-satunya fondasi dalam ajaran Islam. Fondasi lain yang harus dipahami oleh umat Islam adalah Alquran dan Sunnah.

Sejalan dengan hal itu, Bung Karno menyatakan, sebagian besar umat Islam, memahami Islam sebatas label, bungkus dan atribut, bukan isi substansinya. Dan pandangan itu sampai saat ini masih berkembang, bahkan semakin kuat.

Terbukti dengan sebagian orang mengukur Islam atau tidaknya seseorang, misalnya, dengan apakah ia memilih partai islam atau tidak, memilih pemimpin muslim atau bukan, menggunakan hijab atau tidak bagi yang perempuan, memelihara jenggot atau memakai baju cingkrang bagi laki-laki, dan bahkan tak bisa membedakan antara mana budaya Arab dan ajaran Islam.

3. Mempercayai hadis-hadis lemah sebagai rujukan ber-Islam. Hadis merupakan sabda Nabi Muhammad yang merupakan rujukan hukum Islam kedua setelah Alquran. Hadis sendiri dikompilasi oleh para sarjana Muslim seperti Imam Bukhori dan Imam Muslim, seperti yang terdapat di dalam Shahih Bukhori dan Shahih Muslim.

Menurut Bung Karno, yang mengutip para pemburu ajaran Islam pada masanya, banyak isi hadis yang mengandung tahayul dan praktik hidup tak relevan di masa kini. Tetapi tak berarti ia tak menghargai jasa besar para kompilator hadis itu. Ia hanya ingin menunjukkan bahwa, umat Islam harus bisa memilah mana yang kuat periwayatannya dan mana hadis yang lemah dalam isinya.

Penyebab lain kemunduran umat Islam menurut Bung Karno adalah, kurangnya para pemuka agama mempelajari sejarah. Padahal, dengan mempelajari sejarah, kita akan memahami kekuatan-kekuatan masyarakat beserta kemajuan dan kemundurannya.

SUMBER