Ini Pidato Kebudayaan Megawati di Markas UNESCO Paris

SAMBUTAN PRESIDEN KE V REPUBLIK INDONESIA PADA PEMBUKAAN PAMERAN ARSIP DI MARKAS UNESCO PARIS 24 OKTOBER 2016

Asisten Direktur Jenderal UNESCO untuk Komunikasi dan Informasi, Bapak Frank La Rue,

Duta Besar/Delegasi Tetap RI untuk UNESCO, Bapak Hotmangaradja Pandjaitan,

Kepala Arsip Nasional Republik Indonesia, Bapak Mustari Irawan,

Para Duta Besar/Delegasi Tetap Negara-negara anggota UNESCO,

Saudara-saudara semua,

Assalamualaikum, wr,wb

Salam damai dan sejahtera

Terima kasih atas kesempatan yang diberikan kepada saya untuk berbicara dalam forum yang terhormat ini.

Saudara-saudara,

Pameran arsip yang nanti akan saya buka dan kita lihat bersama akan membuka lembaran sejarah yang digoreskan para tokoh dunia di masa lalu. Mereka adalah contoh konkret bagaimana gerakan kolektif antar bangsa adalah sesuatu yang bukan hal mustahil dapat terjadi. Gerakan itu adalah gerakan politik kebudayaan yang menjadikan keberagaman suku, agama, kepercayaan, dan ras bukan sebagai sumber konflik, tetapi sebagai kekuatan. Gerakan itu mampu melintasi benua, terjadi lintas negara, dalam satu ikatan emosional keyakinan bahwa harus hadir sebuah tatanan dunia baru, dunia tanpa “exploitation de l’homme par l’home” dan exploition de nation par nation”. Gerakan tersebut dapat kita baca dan pelajari dalam arsip-arsip Konferensi Asia Afrika dan Gerakan Non Blok.

Saudara saudara,

Saya adalah pencinta arsip. Saya mendukung dan memperjuangkan agar arsip-arsip di negara manapun dapat diselamatkan. Arsip adalah harta karun berharga bagi manusia dan kemanusiaan. Arsip adalah kotak pandora kebenaran sejarah yang penting bagi setiap negara. Dengan bukti otentik yang terkandung dalam arsip, tidak ada kebohongan sejarah yang dapat disembunyikan. Arsip adalah obor penuntun setiap bangsa agar mampu keluar dari peristiwa gelap yang pernah terjadi di masa lalu, dan menata masa depan dengan lebih baik. Arsip adalah kebudayaan yang tidak boleh musnah, karena di dalamnya jati diri sejati setiap bangsa terpatrikan.

Atas pemikiran dan pertimbangan di atas, saya mendukung agar setiap negara, termasuk Indonesia, untuk mengambil keputusan politik meratifikasi dua konvensi internasional yang sangat penting untuk penyelamatan arsip, yaitu Konvensi Den Haag 1954 (tentang proteksi kekayaan budaya dari perang dan konflik bersenjata) dan Konvensi Wina 1983 (tentang aturan arsip pasca kemerdekaan suatu negara).

Saudara-saudara

Saya ucapkan terima kasih kepada semua pihak dan juga kepada UNESCO yang telah menetapkan arsip Konferensi Asia Afrika sebagai Memory of The World. Konferensi Asia Afrika diikuti oleh 200 delegasi yang berasal 29 negara, menghasilkan sebuah komunike akhir yang sangat bersejarah yaitu DASA SILA BANDUNG, yang sangat inspiratif dan menjadi tonggak sejarah dunia. Hanya 10 tahun setelah KAA berlangsung, terdapat 41 negara di Asia dan Afrika, dan gelombang semangat pembebasan yang sama terus mengalir ke Amerika Latin. Gelombang yang membawa semangat dan keberanian bagi rakyat untuk berjuang melepaskan diri dari penjajahan dan menyatakan diri sebagai negara merdeka yang mampu menentukan nasibnya sendiri!

Pidato Bung Karno pada 18 April 1955 menyatakan: “Tidak ada tugas yang lebih penting daripada memelihara perdamaian. Tanpa perdamaian kemerdekaan kita jadi tidak bermakna. Perbaikan dan pembangunan negara kita kehilangan makna”.

Bung Karno meneguhkan kembali keyakinan tersebut dalam pidatonya di depan Sidang Umum PBB ke XV (lima belas), 30 September 1960, berjudul To Build The Worl A New:

“Dengan jelas tampak dimata saya menyingsingnya suatu hari yang baru, dan bahwa matahari kemerdekaan dan emansipasi, matahari yang sudah lama kita impikan, sudah terbit di Asia dan Afrika…. Jelaslah bahwa pada dewasa ini segala masalah dunia kita saling berhubungan. Kolonialisme mempunyai hubungan dengan keamanan; keamanan mempunyai hubungan dengan persoalan perdamaian dan perlucutan senjata; perlucutan senjata berhubungan dengan perkembangan secara damai dari negara-negara yang belum maju. Yah, segala itu saling bersangkut-paut.”

Untaian kalimat tersebut menjadi roh dan spirit Gerakan Non Blok. Sebuah gerakan yang merupakan keputusan politik kebudayaan yang sangat penting, yang berhasil memecah kebekuan akibat perang dingin antara Blok Barat dan Blok Timur. Sekaligus merupakan kelanjutan dari spirit KAA, sehingga negara-negara yang baru merdeka di kawasan Asia, Afrika dan Amerika Latin tidak terseret atau tenggelam dalam arus kepentingan negara-negara adidaya saat itu.

Saya adalah saksi sejarah, dan saya beruntung menjadi bagian dari arsip KTT Non Blok Pertama di Beograd. Saat itu saya sebagai delegasi termuda, berusia 14 tahun. Masih terekam jelas dalam ingatan saya bagaimana peristiwa penting itu terjadi, yang juga membentuk karakter saya dalam politik. Saya rindu perdebatan argumentatif para pemimpin bangsa, seperti yang saya saksikan, saya ikuti, dan saya catat langsung, antara tokoh-tokoh pelopor Gerakan Non Blok, yaitu Bung Karno (Indonesia), Tito (Yugoslavia), Nehru (India), Nasser (Mesir), dan Nkrumah (Ghana).

Hadirin yang saya hormati,

Menurut saya, di era globalisasi saat ini, di saat dunia seperti tanpa sekat, keyakinan yang ditanamkan dan diajarkan oleh Bung Karno dan para pemimpin dunia yang bergabung dalam KAA dan GNB, masih relevan dan sangat dibutuhkan. Saat ini dunia membutuhkan memori kolektif agar mampu bangkit bersama dalam menghadapi masalah global yang menjadi tanggung jawab bersama seluruh warga bangsa. Problematika yang lahir akibat globalisasi dan pasar bebas, akan menemukan solusi jika dunia kembali memiliki jiwa dan semangat yang sama seperti yang dimiliki para pemimpin dunia yang memelopori Gerakan Non Blok, yaitu semangat kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.

Saudara-saudara

Saat ini kita berada di jantung kebudayaan Dunia, yaitu di markas UNESCO. UNESCO sebagai lembaga kebudayaan bangsa-bangsa, saya yakini memiliki cara pandang yang sama, betapa pentingnya arsip Gerakan Non Blok, sama seperti arsip KAA, sangat penting untuk menjadi Memori Dunia, menjadi ingatan dunia: jalan politik dan diplomasi kebudayaan adalah jalan terbaik untuk tidak terjebak dalam kekerasan atas nama apapun. Tidak ada konflik yang tidak dapat kita selesaikan, jika kita menempuh cara damai. Para pemimpin dunia di masa kini, harus mengingat dan meyakini, serta memilih jalan yang dipilih oleh para pemimpin bangsa pelopor Gerakan Non Blok. Sebuah jalan kebudayaan dalam politik dengan keyakinan bahwa kekerasan tidak akan menghasilkan apapun, kekerasan hanya akan mendatangkan kehancuran bagi setiap bangsa, membawa hal yang lebih pahit bagi setiap manusia dan kemanusiaan!

Saudara-saudara

Pada kesempatan ini dipamerkan pula arsip bencana alam yang menimbulkan kerusakan dan kehilangan nyawa luar biasa, yang terjadi di beberapa negara, yaitu Tsunami pada bulan Desember tahun 2004. Bencana ini membuka mata dunia, tidak ada yang tidak terkoneksi di dunia ini, bahkan bencana pun dapat secara bersamaan terjadi di beberapa negara. Bencana alam ini telah membangunkan kemanusiaan yang terkikis akibat modernisasi dan individualisme. Seluruh dunia, saat itu menyaksikan betapa masyarakat di Aceh, di pesisir Thailand, di pesisir Malaysia, India, Srilanka, dan lain-lain negara sekitar lautan Hindia, mengalami kesengsaraan, kepedihan dan kehancuran yang luar biasa. Namun, sekali lagi,  jalan kebudayaan telah membuktikan, tidak ada yang tidak bisa kita selesaikan.  Semangat kebersamaan, solidaritas, rasa kemanusian dan gotong royong dari seluruh elemen dunia telah membuktikan kepada kita, situasi seburuk dan sepahit apapun dapat kita lewati, asal seluruh warga bangsa mau bergandengan tangan dengan semangat satu untuk semua, semua untuk satu. “One for All, All for One!”

Saya percaya Direktur Jenderal UNESCO, Ms. Irina Bokova dan seluruh pejabat UNESCO juga memiliki keyakinan yang sama, dan memperjuangkan hal yang sama pula. Karena itu, saya yakin UNESCO pun akan segera memutuskan arsip Gerakan Non Blok dan Bencana Alam Tsunami sebagai Memory of The World!

Saudara-saudara,

Terakhir saya ucapkan terima kasih kepada Aljazair, Serbia, dan Srilanka yang telah terlibat aktif dalam pameran ini. Terima kasih juga kepada seluruh rakyat Indonesia dan Pemerintah Indonesia, terutama KBRI di Paris, Delegasi Tetap RI di UNESCO, Arsip Nasional Republik Indonesia, dan Pemerintah Provinsi Aceh atas terselenggaranya pameran ini. Terima kasih kepada UNESCO yang telah memberi kesempatan berharga ini kepada kami dan terus memberi ruang dan memperjuangkan jalan kebudayaan, serta mejadikan keberagaman budaya, termasuk arsip bangsa-bangsa, sebagai kekuatan dunia. Terima kasih bagi siapa saja yang telah memilih jalan kebudayan untuk terciptanya dunia yang memberikan keadilan dan kesejahteraan bagi setiap orang!

Saya nyatakan Pameran Arsip Konferensi Asia Afrika, Gerakan Non Blok, dan Tsunami, resmi dibuka.

Terima kasih,

Wassalammu’alaikum, wr,wb.

salam solidaritas dan persaudaraan!

 

Paris, 24 Oktober 2016

Megawati Soekarnoputri

Presiden kelima RI

 

SUMBER BERITA